Tampilkan postingan dengan label dialog iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dialog iman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

MENUJU DIALOG ANTAR IMAN

Oleh 
 TH Sumartana-St.Sunardi-Farid Wajidi

Beberapa pengamat agama berkaliber internasional melihat Indonesia sebagai negara yang mampu menciptakan dan memelihara rubungan antar agama yang baik, sehingga sering kali dijadikan sebagai teladan dalam hal kerukunan antar umat beragama. Bagi orang yang hidup di Indonesia, pandangan semacam ini bukan hal yang gampang diterima begitu saja mengingat kesulitan-kesulitan yang muncul belakangan ini. Tetapi pandangan tersebut bisa dipahami karena bagaimanapun juga, dibandingkan dengan situasi hubungan agama di tempat lain; situasi di Indonesia memang lebih memberi harapan. Dan memang hal ini juga disebabkan, paling tidak untuk sebagian, karena terjadi dialog di kalangan para pemuka dan intelektual masing-masing agama. Akhir-akhir ini mulai dipersoalkan kembali secara baru masalah dialog atau kerjasama antar agama. Masih relevankah dialog antar agama? Kalau ya, bagaimana dialog harus dilakukan? Dan apakah pendekatan yang dipakai untuk dialog selama ini masih bisa dianggap memadai ?

Jumat, 16 Februari 2018

KEMUSLIMAN DAN KEMAJEMUKAN AGAMA

Oleh

DJOHAN EFENDI


Kemajemukan adalah sebuah fenomena yang tidak mungkin kita hindari. Kita hidup di dalam kemajemukan dan merupakan bagian dari proses kemajemukan, aktif maupun pasif. la menyusup dan menyangkut dalam setiap dan seluruh ruang kehidupan kita, tak terkecuali juga "dalam hal kepercayaan. Kita menghadapi kenyataan adanya berbagai agama dengan umatnya masing-masing. Bahkan tidak hanya itu, kita pun menghadapi --kalau tidak di negeri kita tentu di negeri lain-orang yang tidak beragama atau tidak bertuhan. Dalam menghadapi kemajemukan seperti itu tentu saja kita tidak mungkin mengambil sikap anti pluralisme. Kita harus belajar toleran terhadap kemajemukan. Kita dituntut untuk hidup di atas dasar dan dalam semangat pluralisme. Persoalannya adalah bagaimanakah, dalam perspektif iman kita, fenomena kemajemukan itu kita terima? Dan bagaimana pula nilai-nilai pluralisme itu kita hayati?

IDEA UMAT TERPILIH DALAM PERJANJIAN LAMA: POSITIF ATAU NEGATIF?

OLEH  
PROF. E.G. SINGGIH Ph.D


Pada masa kini menurut banyak orang kita tidak hanya berada dalam “zaman Oikumene”, yaitu pertemuan, pergaulan, dialog dan persatuan suatu gereja dengan gereja lain di dalam keluarga agama Kristen, tetapi juga sudah masuk ke zaman oikumenisme agama-agama. Saya tidak tahu siapa yang menciptakan istilah ini, namun maksudnya jelas: zaman ini adalah zaman pertemuan, pergaulan dan dialog suatu agama dengan agama lainnya. Saya tidak menyebut persatuan, sebab memang belum kelihatan atau memang tidak direncanakan demikian. Bahkan di kalangan mereka yang rajin berdialogpun, persatuan tidak masuk di dalam agenda. Pokok terakhir ini sering dianggap justru menghalangi dialog. Jadi agendanya agak lain dari apa yang kita lihat pada gereja-gereja. Di situ dialog diadakan dalam rangka persatuan, atau kalau mau memakai istilah yang khas dari kalangan oikumenis, “keesaan gereja” (saya berbicara mengenai keadaan yang ideal, sebab dalam kenyataan yang agak sempit seperti di Indonesia, bukannya persatuan yang terjadi melainkan kebalikannya. Sejak PGI didirikan pada tahun 1948, belum pernah terjadi dua gereja yang merencanakan bergabung menjadi satu. Yang terjadi adalah gereja yang pecah-pecah menjadi gereja-gereja baru, yang nantinya juga dapat menjadi anggota PGI...).

Rabu, 14 Februari 2018

BERSAMA SAUDARA-SAUDARI BERIMAN LAIN (PERSPEKTIF GEREJA KATOLIK)

Oleh
J.B. BANAWIRATMA, S.J

Adanya macam-macam agama dan iman kepercayaan di dunia kita adalah suatu kenyataan. Berhadapan dengan kenyataan tersebut, setiap orang dan umat beriman disapa untuk mengambil sikap. Dewasa ini semakin jelas arus pemahaman dan sikap yang menegaskan bahwa agama mempunyai makna dalam kehidupan bermasyarakat. Sekularisme tanpa agama ditolak. Begitu pula ditolak ghetto, komunalisme, primordialisme maupun fundamentalisme agresif. Literatur berhubungan dengan perjumpaan antar umat beriman di lingkungan Gereja Katolik sangatlah luas. Kenyataan itu saja kiranya sudah dapat dilihat sebagai tanda bahwa hubungan antar umat beriman tidak dianggap hal kecil. melainkan merupakan kepedulian sangat penting baik dari perspektif sosiologis maupun dari perspektif teologis. Literatur yang ada berkisar sekitar teologi agama-agama. keunikan Yesus Kristus dan kekhasan agama Kristen, peranan Gereja dalam sejarah keselamatan dunia, perjumpaan agama Kristen dengan agama-agama Yahudi, islam, Hindu, Buddha, Konfusianisme, Shintoisme. Taoisme, maupun dengan kepercayaan popular. Uraian singkat ini akan meyampaikan posisi penulis dari Gereja Katolik sehubungan dengan pandangan sikap dan harapan Gereja Katolik di tengah-tengah kenyataan pluralisme religius tersebut.

HUBUNGAN ANTAR-AGAMA DIMENSI INTERNAL DAN EKSTERNALNYA DI INDONESIA

OLEH 
ABDURRAHMAN WAHID

Hubungan antar agama di Indonesia selama kurun waktu 30 tahun terakhir ini telah berkembang dalam berbagai dimensinya, yang secara kualitatif telah merobah, dan pada saat yang sama dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran keagamaan di kalangan umat beragama itu sendiri. Hal ini minimal dapat ditelusuri pada pemikiran keagamaan kaum muslimin atau umat Islam, dalam sosoknya yang tampak balau pada saat ini. Tulisan ini dimaksudkan untuk menelusuri beberapa sisi yang dapat dilihat pada dimensi teologis dan dimensi politis dari hubungan kaum muslimin yang 'mewakili islam' dan umat beragama lain. Pada akhir tulisan akan dikemukakan beberapa aspek yang dapat diproyeksikan pada perobahan yang terjadi dalam pola hubungan antar umat beragama yang ada pada saat ini.